Sunday, September 1, 2019

Misteri KKN Desa Penari

Misteri KKN Desa Penari

Semalam baca cerita Misteri KKN Desa Penari. Karena penasaran lihat status berseliweran tentang tulisan itu. Ada yang menyarankan untuk tidak membaca jika nanti malah terbayang-bayang dan ketakutan, ada pula yang menyarankan agar tidak membacanya di malam hari, apalagi sendirian. 


Misteri KKN Desa Penari
Misteri KKN Desa Penari

Wah, aku jadi penasaran apa begitu menyeramkan? Akhirnya, teringat status teman yang menshare cerita itu versi Widya dan versi Nur, aku pun mencari di profil teman itu dan ketemu. Dan semalam aku membaca dua versi sekaligus hingga tanpa sadar ternyata waktu menunjukkan pukul 23.30 WIB. Hehe... Apa kabar saran yang menganjurkan tudak membacanya malam-malam ya?

Menurutku tidak begitu seram. Lebih ke tragis kalau menurutku. Kesanku setelah membaca cerita itu bukan takut, tapi bertanya-tanya. Kenapa ya, yang lulusan pondok seperti Bima bisa seperti itu? Jawabannya sudah pasti karena masalah asmara. Cinta membutakan Bima dan Ayu. Ya, dalam cerita ini benang merahnya adalah cinta segitiga, antara Ayu, Bima, dan Widya. Dan juga kesyirikan sebagai pelengkapnya.
Ayu menyukai Bima, itu yang membuat dia meminta Nur mengajak Bima. Sedangkan Bima menyukai Widya. Semua terjadi di tempat yang salah. Bima bertemu dengan seseorang yang bisa membuat Widya jatuh cinta dengan memberikan mahkota putih. Menurut Bima itu hanya gadis desa biasa, padahal itu adalah jin (menurut Nur). Padahal, perjanjian dengan jin sudah pasti meminta konsekuensi yang berat. Dan itu adalah syirik. Apa konsekuensi Bima? Dia harus menikah dengan siluman ular di tempat itu dan meninggalkan sholat kewajibannya sebagai seorang muslim.
Sama hanya dengan Ayu. Dari awal dia yang memilih tempat itu untuk melaksanakan KKN. Mungkin dia bersekutu dengan jin juga, menurut cerita dia memiliki selendang hijau agar laki-laki yang diincar menyukainya, yaitu Bima.


Misteri KKN Desa Penari
Misteri KKN Desa Penari

Kedekatan antara Bima dan Ayu karena dalam satu proker, membuat setan lebih leluasa menganggu mereka. Walaupun Bima menyukai Widya, tapi yang selalu di dekatnya adalah Ayu, tetap saja dia melakukaan hubungan itu dengan Ayu.
Terlepas pembahasan dari angker dan tidaknya tempat kejadian perkara itu, yang pasti dapat diambil kesimpulan, bahwa zina memang membawa petaka. Di manapun tempatnya. Belum lagi desa tempat KKN itu masih mempercayai sesajen, dan lain sebagainya. Setan akan lebih berbangga diri dengan penghormatan kepadanya.

baca juga : 

  1. Janda baru mengusikku
  2. Jangan menikah sama orang yang punya penyakit

Padahal, jangankan di hutan belantara, di rumah kita pun pasti terdapat banyak setan. Namun, bisa kita mengusirnya, dengan cara membacakaan ayt Al Quran di dalam rumah kita, (Ada haditsnya) bukan malah memberi sesajen kepada mereka.
Memang dalam KKN rawan terjadi cinta lokasi, karena kegiatan yang menuntut "kebersamaan" antara laki-laki dan perempuan dalam satu kelompok. Saran kepada adik-adik yang melaksanakan KKN, selalu ingat norma agama dan norma kesusilaan, walaupun jauh dari orang tua. Karena aku pun suka ngeri kalau dengar ada kelompok KKN yang tinggal dalam satu rumah.
Intinya, hati-hati jika sudah berurusan dengan masalah cinta. Jangan sampai melupakan segalanya demi cinta, sampai seperti Bima mau menyantet Widya tapi malah berbalik mencelakai dirinya. Begitu pula Ayu yang menanggung akibat dari perbuatannya.
Secara keseluruhan aku terkesan dengan cerita itu. Aku jadi membayangkan tempat-tempat di cerita, seperti ikut berada di dalamnya. Cerita versi Widya agak membingungkan, karena tulisan yang kadang disingkat, sedangkan versi Nur, lebih jelas. Seandainya ada versi Ayu, mungkin bisa terjawab bagaimana awal mula perjanjian dengan jin itu, dan apa alasannya memilih desa itu sebagai tempat KKN mereka. Sayang, Ayu meninggal pada akhirnya. Miris dan ngeri ketika membayangkan Ayu menangis dalam kondisi lumpuh seperti itu.

Kesimpulan singkat dari cerita itu,
1. Jangan dekati zina (apalagi berzina)
2. Junjung tinggi norma, terutama norma agama di manapun berada.
3. Sesajen itu syirik, temannya setan.
4. Setan memang ada, tapi ....... (ini mungkin bahasannya panjang)
5. Ada yang mau menambahi?

Wallahu a'lam. Hanya kesimpulan subjektif dariku, mohon maaf bila tidak sependapat.



Autor : Ummu Hanan
Pemalang, 29 Agustus 2019

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon